My Archieve

Tampilkan postingan dengan label Puisi Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Februari 2016

Puisi: "Song of Februari"

Mengapa Februari? 
Cinta lari 
Atau dicuri 
Mungkin terbang bersama peri 

Malah kadang sembunyi 
Dibalik pelangi 
bersama para merpati 
yang terpanah dihati 

Layaknya pagi 
Yang selalu menanti 
Dicumbu mentari 
Lalu menari 

Tapi Februari pun pergi 
Perlahan kan terlupa 
Tak di kenang lagi 
Cinta tak tersisa lagi 

Tak ada yang peduli :) 

Selasa, 23 Juni 2015

Puisi: The lover & The Rascist

Ditengah plural kita berpelukan 
hanya kita.. Hitam 
yang lain putih.. 

Sorot mata itu.. 
Sorot yang tak asing 
sedikit curiga 
Mungkin takut 
Tapi lebih banyak iri 
Seperti terik menembus kaca 
kita terus tenang 
sudah biasa.. Mungkin 

tapi.. 
Masih belum merdeka 
Masih mencoba merdeka 
Lepas dari stigma, lepas dari sang "mereka".. 

Saya tetap aku 
kami bukan kita 
kita belum mereka 
jadi, siapa saya? 

Hitam yang mencoba jadi putih? 
Merasa putih? 
Atau berpura-pura putih?

Senin, 22 Juni 2015

Puisi : Ingin Pulang


Tidak 
harus 
dengan gegap 
atau gempita 
diamdiam saja 
tanpa jasa 
tanpa gelar 
purapura kelar 

mungkin 
ongkos pesawatku 
dari kota ke desa 
lebih mahal 
dari manusia normal 
pengap sendiri 
dalam bagasi 
kaku dalam peti 
berdesakkan dengan koper lain 

tidak 
harus 
dengan tangis 
atau haru 
gali lubang saja 
tanpa pendeta 
tanpa majelis 
cukup purapura menangis 

begitu nyaman di tanah sendiri...

Sabtu, 20 Juni 2015

Puisi : End of the dream, beginning of reality.

Disini seharusnya kuberada 
berlari bersamanya 
melukis hari bersama 

tak cuma mimpi 
tak lagi berkhayal 

inilah akhir penantian 
disini 'kan kuletak hatiku 
biarkan ia bertumbuh 
dan berbunga 

bersamamu 
dalam keabadian :)

Puisi: "Sudah.. cukup.."

Cuma separuh 
Keriaan membelah sepi 
Digawangi hasrat sekilas 
Waktu hujan dihari minggu 

Kiat demi kata merupa fantasi 
Deru rintik beradu aspal 
Kala berteduh melawan dingin dan melankolia 
Sebuah bercak tergenang hanyut susut 

Ingin lama berteduh 
Tapi secepat angin utara 
Seka geliat awan hitam 
Hingga kikis semua asa, lalu pudar 
Terseokseok pulang 

Semua gamang terucap 
Tak perlu diukir atau tersurat 
Hanya 
Diam 
Malu 
Senyum 
Lalu 
Pergi 

Kiranya hanya fana 
Tak lagi menghasrat kini 
Serdadu mengarak jasad kesabaran 
Tak satupun menangis 
Memang tak ada yang harus, perlu atau pantas ditangisi 

Cuma lembaran kusut dan kelam 
Hanyut bersama bercak pelangi digenangan 
Menuju rumah kurakura 
Lembab dan kotor 

Walau purapura 
sempat terkesima aku sedetik 
Paruparu akan tetap mengecap udara 
Tak ada yang perlu dikhawatirkan 
Meski gerimis menyerbu 

Saatnya serdadu pulang 
Peluru dan panah tertancap 
Mungkin robek, tembus sampai ke hati 

Tak ada yang harus, perlu atau pantas ditangisi 
Toh siang masih dimakan senja 
Dan pagi masih datang membakar bulan 

Tak ada yang harus, perlu atau pantas ditangisi

Jumat, 19 Juni 2015

Puisi: Nyanyian Adam

Malu 
Jika itu mau-Mu 
aku takkan ragu 

Malu 
Kalau pun masih ada 
aku ingin tahu 

Malu 
Asal bukan ditengah 
aku tetap patuh 

Malu 
karena dosa 
atau tak pakai baju 

Malu 
aku tak mau 
melihat kemaluanku 

Malu 
jika tak begitu 
tak ada aku 

Malu 
pada siapa 
Hanya Dia yang tahu

Puisi: "Mungkin Kita.."

Dalam kotak, sepi menyesak 
selaput bimbang, angan terbang 
apa guna aksara tergeletak? 
Jika tak keruan menggali benak 

pening kepala ini 
pikirpikir yang tak terpikirkan 
terkaterka subjek astral 
ujungujung jadi batu didekat empedu 
berkelit emosi jadi benalu 

Tuhan.. 
'Pabila benar runtuk ini 
kutuk saja aku 

Tuhan.. 
'Pabila habis sabar ini 
habisi saja aku 

disana tergeletak pusaran 
air api beradu dendam 
kian beradu tapi tak menyatu 
duadua tersulut rindu 
tapi tak sesadar yang mereka tahu

padahal, sekiranya benar.. 
Musti perbedaan jadi nada pengertian jadi melodinya dunia hanya panggungnya sedang kitalah lagunya 
andai kita tahu 
Mungkin kita... ...

Puisi: Salah

12 January 2013 at 06:05

Bumi khianat 
Langit tak mau runtuh 
Menyusuri kiamat 
Gonggongan manusia bagai gemuruh 

Syahdu kebohongan 
Berkumandang ditiap sudutnya 
Jangan umbar muluk angan 
Reda pula di bait-Nya 

Ku hanya makhluk endemik 
Terkapar menunggu maut 
Bila penuh polemik 
Aku kan lebur dengan laut 

Bila pun seandai surga terbuka untukku 
Takkan terkesima aku 
Karena sungguh tak pantas jua 
Sedetikpun hamba melawat hariba'an-Nya

Puisi: Sampai riuh batinnya (Elegi Part 1.g)

5 January 2013 at 05:33

Gema-kan lantang suara keadilan 
meski tak tahu artinya 
sejuta suara, tak geming tersipu 

Lalu jawab-Nya: 
"Hey para pencari suara.." 

Aku menciptakan orang miskin dan kaya, tak lain demi keadilan.. 
Semisal semua orang jadi bos, siapa yang bakal nambal baby benz-nya yang gembos waktu lewati rawasari.. 
Semisal semua orang jadi tukang tambal, ban mobil siapa yang bakal ditambal.. 

Hidup punya hidupnya masing-masing 
Jika kita mau jalani dan syukuri.. 

Jadi bila terima perbedaan sebagai keselarasan.. 
Itulah keadilan sejati..

Puisi: Borong Emosi (Elegi Part 1.f)

Borong Emosi (Elegi Part 1.f)

Gundah gulana menanti koran pagi
Cuma segelas galau belaka yang menemani
Mentari kian risau menyulut kicau pagi
Pun harap-harap-cemas kubaca berita utama ini 


Upah minimum pekerja 
Naik !
Tarif dasar listrik 
Naik !
Bahan bakar minyak 
Naik !
Gas 12 Kg 
Naik !
Tarif masuk Tol 
Naik !
Harga warung makan 
Naik !
Gaji pejabat 
Naik !

Cuma harga rupiah dan Moral yang sama-sama turun..

Puisi: Indah Dalam Diam

Dia bisu..

Dia indah..

Dia memiliki ekspresi yg tak terbayangkan..

Dia cantik..sangat cantik

Dia alami...sangat alami..

Dia tidak pernah bohong..aku rasa..

Dia punya senyuman paling lembut..

Dia bersahabat..

Dia sempurna dalam ketidaksempurnaannya..

Dia inspirasi bagi para pemberi inspirasi..

Dia tak terlukiskan..
Lebih dari kata2..

Smakin sering ku memandangnya..
Dia semakin terlihat sempurna..

Tapi ku takkan bisa masuk ke dunianya..

Karena..
Dia memang benar2 Bisu..

^__^

Jumat, 04 Januari 2013

Puisi: "Laron, toilet dan nafsunya"

Kenapa makin banyak laron dalam bak mandi?
Apa musim yang giring mereka?
Atau rayuan lampu tak lagi ampuh?

Mungkin hujan semalam-malaman mengungkit hati para pemain suling
Sampai-sampai pagi buta ikut bernyanyi
Menuntun laron-laron, berduyun-duyun terjun
Menembus rasio yang mereka tak punya
Menembus logika yang mereka tak punya
Dalam insting cuma haus semu

Akhirnya tenggelam dan megambang

Tak tega ku usik lelap baka
Maka kugayung pelan-pelan, mayat-mayat laron yang berserak-serak di genangan yang tenang
Kuhantar ke peraduan
Lubang WC yang sebentar lagi mau kupakai

Puisi : "Sweet Rain"

 

Walau Serapuh itu pelangi tercipta

Namun ia selalu setia menunggu hujan reda

Ia tetap disana, sampai rintik yang terakhir menyentuh bumi

Hingga langit tak lagi meneteskan luka

Pada puing kenangan yang tak pernah lenyap disapu sang waktu..

Kamis, 03 Januari 2013

Puisi: "Lebih berarti dari dunia"


Kau tak terbayangkan

Cahaya yang melintas
Aroma senja yang tak terasa
Dengung sepi ditengah malam
Daun gugur yang menari jatuh
Kertas kosong si penyair
Emosi yang datang, lalu pergi
Setitik bara api terbawa angin

Namun kau ada..
Dan lebih berarti dari dunia..

Rabu, 02 Januari 2013

Puisi: "Saat aku lanjut usia"


Senja makin menua
Ketika tersadar,
Ternyata kita sudah menari cukup lama

Mungkin pesta ini sedetik lagi usai
Tak lagi ramai
Mulai berkabut

Sini..
Duduk sebentar
Secangkir lemon hanga
Buat singkut terpaan dingin yang mengoyak kemudaan

Lelah adanya
Renta memeluk
Pembaringan kita mulai rindu
Menjamah hasrat kita yang linu

Cukuplah menari
Mari berbaring

Sini..
Dekat-dekat biar hangat
Dingin malam kian melekat
Sayang.. lebih merapat
Agar jelas rautmu kulihat

Bila esok tak datang untukku
Dinda..
Biar kukecup hidungmu untuk terakhir

Tetap dekap
Cintaku
Sampai tubuh ini menyerpih
Dan terbang jadi debu

Kita hanya bualan waktu
Tak perlu mencinta
Akhirnya pun akan terpisah
Lenyap bersama alunan lagu

Jangan percaya keabadian..

Tak ada keabadian..

(Elegi part 1.e) Biar Kenangan Segar

Biar Kenangan Segar (Elegi part 1.e)

by David Alexander Jacob on Monday, 22 October 2012 at 21:06 ·


Lari dulu searah sore
Ke lapangan tempat kita mandi hujan dulu
Saat agustus menanti desember
dan pancuran dibelakang rumah yang tak pernah kering

Mentari terbit di ujung jalan aspal menanjak
Iringi langkah ke sekolah
Sapi berjalan beriringan
Roda besi bergesekan dengan jalan
ciptakan bunyi khas ditelinga

Para penyair menyanyikan keagungan-Nya tiap minggu
Lonceng berdentum tiga kali

Tak akan hilang
Memori di desa

(Elegi part 1.d) Pulangkan Sejarah

Pulangkan Sejarah (Elegi part 1.d)

by David Alexander Jacob on Tuesday, 16 October 2012 at 22:44 ·


Temani aku ambil kembali tanah yang sudah aku jual pada sekutu..
Biar dagingku jadi ganti kebodohanku..

Merdeka!!

(Elegi part 1.c) Dihantam Hukum Alam

Dihantam Hukum Alam (Elegi part 1.c)

by David Alexander Jacob on Tuesday, 16 October 2012 at 22:25 ·


Masker hijau serasi dengan rambut bebop coklatmu..
Namun tengkukmu terlalu putih untuk sembunyi..

Kerumunan malam tak lekas pijarkan warnamu..
Kibasan angin, rambutmu menari..

Semampai, dagu tegas, mata bulat mengerling..

Tapi sempurnamu jua, kita takkan pernah saling mencinta..

Karena kita tak beda kelamin..

(Elegi part 1.b) Demam Ketidakpuasan

Demam Ketidakpuasan (Elegi part 1.b)

by David Alexander Jacob on Tuesday, 16 October 2012 at 22:17 ·


Yang disesap tak kunjung habis
namun merinding pula kau mengiri..

Sempat kau mengabdi pada daging
Naluri berbagi di tiup malam

Tak ada kesenangan untukmu selain menerobos lampu merah
Waktu Tuhan jadi utama, kau mau jadi yang esa..

Mentariku harus padam
Tapi lilinmu tak boleh mencair..

Selesai..

Kau ingin lagi..

(Elegi part 1.a) Koreografi masa

Koreografi masa (Elegi part 1.a)

by David Alexander Jacob on Monday, 15 October 2012 at 08:38 ·


Di puerto rico aku dilahirkan
Ditengah perang tomat
Berusaha keluar dari kerumunan ari-ari
Becek dan berair

Matahari sedang tinggi
Kulihat pisau bedah malang melintang
di depan mataku yang masih terkunci
Punya dokter atau tukang jagal
aku tak peduli

Aku dibesarkan di conney island
Sebuah pulau di west coast dekat beverly hills
Yang kuingat hanya kincir besar yang sering kunaiki
Karena dipuncaknyalah aku bisa melihat Eifel dan Liberty dalam satu waktu

Hanya kegembiraan disana
Aku menangis sekali-sekali waktu badut itu berdandan berlebihan
Dan mainanku dipakai anak lain

Aku sempat pindah ke alaska
Tempat dimana Tuhan menaruh AC di langitnya
Terlalu dingin

Akhirnya aku pindah ke Tokyo, Jepang
Tempat kulewati masa puber dengan majalah porno dan doktrin agama
Masa-masa mencari pijakan fundamen yang liar

Akhirnya aku tiba disini
dibumi antah berantah
Tanda tanya dan kegalauan
Kebebasan yang tak merdeka
Kalah
Tapi masih bercita-cita

Aku ingin mati disini