Mengapa Februari?
Cinta lari
Atau dicuri
Mungkin terbang bersama peri
Malah kadang sembunyi
Dibalik pelangi
bersama para merpati
yang terpanah dihati
Layaknya pagi
Yang selalu menanti
Dicumbu mentari
Lalu menari
Tapi Februari pun pergi
Perlahan kan terlupa
Tak di kenang lagi
Cinta tak tersisa lagi
Tak ada yang peduli :)
Kumpulan Puisi Mahasiswa Hampir Abadi.. Ini Karya Gw, David.. Enjoy It ^^
My Archieve
Tampilkan postingan dengan label Puisi Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Indonesia. Tampilkan semua postingan
Minggu, 14 Februari 2016
Selasa, 23 Juni 2015
Puisi: The lover & The Rascist
Ditengah plural kita berpelukan
hanya kita.. Hitam
yang lain putih..
Sorot mata itu..
Sorot yang tak asing
sedikit curiga
Mungkin takut
Tapi lebih banyak iri
Seperti terik menembus kaca
kita terus tenang
sudah biasa.. Mungkin
tapi..
Masih belum merdeka
Masih mencoba merdeka
Lepas dari stigma, lepas dari sang "mereka"..
Saya tetap aku
kami bukan kita
kita belum mereka
jadi, siapa saya?
Hitam yang mencoba jadi putih?
Merasa putih?
Atau berpura-pura putih?
hanya kita.. Hitam
yang lain putih..
Sorot mata itu..
Sorot yang tak asing
sedikit curiga
Mungkin takut
Tapi lebih banyak iri
Seperti terik menembus kaca
kita terus tenang
sudah biasa.. Mungkin
tapi..
Masih belum merdeka
Masih mencoba merdeka
Lepas dari stigma, lepas dari sang "mereka"..
Saya tetap aku
kami bukan kita
kita belum mereka
jadi, siapa saya?
Hitam yang mencoba jadi putih?
Merasa putih?
Atau berpura-pura putih?
Senin, 22 Juni 2015
Puisi : Ingin Pulang
Tidak
harus
dengan gegap
atau gempita
diamdiam saja
tanpa jasa
tanpa gelar
purapura kelar
mungkin
ongkos pesawatku
dari kota ke desa
lebih mahal
dari manusia normal
pengap sendiri
dalam bagasi
kaku dalam peti
berdesakkan dengan koper lain
tidak
harus
dengan tangis
atau haru
gali lubang saja
tanpa pendeta
tanpa majelis
cukup purapura menangis
begitu nyaman di tanah sendiri...
Sabtu, 20 Juni 2015
Puisi : End of the dream, beginning of reality.
Disini seharusnya kuberada
berlari bersamanya
melukis hari bersama
tak cuma mimpi
tak lagi berkhayal
inilah akhir penantian
disini 'kan kuletak hatiku
biarkan ia bertumbuh
dan berbunga
bersamamu
dalam keabadian :)
berlari bersamanya
melukis hari bersama
tak cuma mimpi
tak lagi berkhayal
inilah akhir penantian
disini 'kan kuletak hatiku
biarkan ia bertumbuh
dan berbunga
bersamamu
dalam keabadian :)
Puisi: "Sudah.. cukup.."
Cuma separuh
Keriaan membelah sepi
Digawangi hasrat sekilas
Waktu hujan dihari minggu
Kiat demi kata merupa fantasi
Deru rintik beradu aspal
Kala berteduh melawan dingin dan melankolia
Sebuah bercak tergenang hanyut susut
Ingin lama berteduh
Tapi secepat angin utara
Seka geliat awan hitam
Hingga kikis semua asa, lalu pudar
Terseokseok pulang
Semua gamang terucap
Tak perlu diukir atau tersurat
Hanya
Diam
Malu
Senyum
Lalu
Pergi
Kiranya hanya fana
Tak lagi menghasrat kini
Serdadu mengarak jasad kesabaran
Tak satupun menangis
Memang tak ada yang harus, perlu atau pantas ditangisi
Cuma lembaran kusut dan kelam
Hanyut bersama bercak pelangi digenangan
Menuju rumah kurakura
Lembab dan kotor
Walau purapura
sempat terkesima aku sedetik
Paruparu akan tetap mengecap udara
Tak ada yang perlu dikhawatirkan
Meski gerimis menyerbu
Saatnya serdadu pulang
Peluru dan panah tertancap
Mungkin robek, tembus sampai ke hati
Tak ada yang harus, perlu atau pantas ditangisi
Toh siang masih dimakan senja
Dan pagi masih datang membakar bulan
Tak ada yang harus, perlu atau pantas ditangisi
Keriaan membelah sepi
Digawangi hasrat sekilas
Waktu hujan dihari minggu
Kiat demi kata merupa fantasi
Deru rintik beradu aspal
Kala berteduh melawan dingin dan melankolia
Sebuah bercak tergenang hanyut susut
Ingin lama berteduh
Tapi secepat angin utara
Seka geliat awan hitam
Hingga kikis semua asa, lalu pudar
Terseokseok pulang
Semua gamang terucap
Tak perlu diukir atau tersurat
Hanya
Diam
Malu
Senyum
Lalu
Pergi
Kiranya hanya fana
Tak lagi menghasrat kini
Serdadu mengarak jasad kesabaran
Tak satupun menangis
Memang tak ada yang harus, perlu atau pantas ditangisi
Cuma lembaran kusut dan kelam
Hanyut bersama bercak pelangi digenangan
Menuju rumah kurakura
Lembab dan kotor
Walau purapura
sempat terkesima aku sedetik
Paruparu akan tetap mengecap udara
Tak ada yang perlu dikhawatirkan
Meski gerimis menyerbu
Saatnya serdadu pulang
Peluru dan panah tertancap
Mungkin robek, tembus sampai ke hati
Tak ada yang harus, perlu atau pantas ditangisi
Toh siang masih dimakan senja
Dan pagi masih datang membakar bulan
Tak ada yang harus, perlu atau pantas ditangisi
Jumat, 19 Juni 2015
Puisi: Nyanyian Adam
Malu
Jika itu mau-Mu
aku takkan ragu
Malu
Kalau pun masih ada
aku ingin tahu
Malu
Asal bukan ditengah
aku tetap patuh
Malu
karena dosa
atau tak pakai baju
Malu
aku tak mau
melihat kemaluanku
Malu
jika tak begitu
tak ada aku
Malu
pada siapa
Hanya Dia yang tahu
Jika itu mau-Mu
aku takkan ragu
Malu
Kalau pun masih ada
aku ingin tahu
Malu
Asal bukan ditengah
aku tetap patuh
Malu
karena dosa
atau tak pakai baju
Malu
aku tak mau
melihat kemaluanku
Malu
jika tak begitu
tak ada aku
Malu
pada siapa
Hanya Dia yang tahu
Puisi: "Mungkin Kita.."
Dalam kotak, sepi menyesak
selaput bimbang, angan terbang
apa guna aksara tergeletak?
Jika tak keruan menggali benak
pening kepala ini
pikirpikir yang tak terpikirkan
terkaterka subjek astral
ujungujung jadi batu didekat empedu
berkelit emosi jadi benalu
Tuhan..
'Pabila benar runtuk ini
kutuk saja aku
Tuhan..
'Pabila habis sabar ini
habisi saja aku
disana tergeletak pusaran
air api beradu dendam
kian beradu tapi tak menyatu
duadua tersulut rindu
tapi tak sesadar yang mereka tahu
padahal, sekiranya benar..
Musti perbedaan jadi nada pengertian jadi melodinya dunia hanya panggungnya sedang kitalah lagunya
andai kita tahu
Mungkin kita... ...
selaput bimbang, angan terbang
apa guna aksara tergeletak?
Jika tak keruan menggali benak
pening kepala ini
pikirpikir yang tak terpikirkan
terkaterka subjek astral
ujungujung jadi batu didekat empedu
berkelit emosi jadi benalu
Tuhan..
'Pabila benar runtuk ini
kutuk saja aku
Tuhan..
'Pabila habis sabar ini
habisi saja aku
disana tergeletak pusaran
air api beradu dendam
kian beradu tapi tak menyatu
duadua tersulut rindu
tapi tak sesadar yang mereka tahu
padahal, sekiranya benar..
Musti perbedaan jadi nada pengertian jadi melodinya dunia hanya panggungnya sedang kitalah lagunya
andai kita tahu
Mungkin kita... ...
Puisi: Salah
12 January 2013 at 06:05
Bumi khianat
Langit tak mau runtuh
Menyusuri kiamat
Gonggongan manusia bagai gemuruh
Syahdu kebohongan
Berkumandang ditiap sudutnya
Jangan umbar muluk angan
Reda pula di bait-Nya
Ku hanya makhluk endemik
Terkapar menunggu maut
Bila penuh polemik
Aku kan lebur dengan laut
Bila pun seandai surga terbuka untukku
Takkan terkesima aku
Karena sungguh tak pantas jua
Sedetikpun hamba melawat hariba'an-Nya
Bumi khianat
Langit tak mau runtuh
Menyusuri kiamat
Gonggongan manusia bagai gemuruh
Syahdu kebohongan
Berkumandang ditiap sudutnya
Jangan umbar muluk angan
Reda pula di bait-Nya
Ku hanya makhluk endemik
Terkapar menunggu maut
Bila penuh polemik
Aku kan lebur dengan laut
Bila pun seandai surga terbuka untukku
Takkan terkesima aku
Karena sungguh tak pantas jua
Sedetikpun hamba melawat hariba'an-Nya
Puisi: Sampai riuh batinnya (Elegi Part 1.g)
5 January 2013 at 05:33
Gema-kan lantang suara keadilan
meski tak tahu artinya
sejuta suara, tak geming tersipu
Lalu jawab-Nya:
"Hey para pencari suara.."
Aku menciptakan orang miskin dan kaya, tak lain demi keadilan..
Semisal semua orang jadi bos, siapa yang bakal nambal baby benz-nya yang gembos waktu lewati rawasari..
Semisal semua orang jadi tukang tambal, ban mobil siapa yang bakal ditambal..
Hidup punya hidupnya masing-masing
Jika kita mau jalani dan syukuri..
Jadi bila terima perbedaan sebagai keselarasan..
Itulah keadilan sejati..
meski tak tahu artinya
sejuta suara, tak geming tersipu
Lalu jawab-Nya:
"Hey para pencari suara.."
Aku menciptakan orang miskin dan kaya, tak lain demi keadilan..
Semisal semua orang jadi bos, siapa yang bakal nambal baby benz-nya yang gembos waktu lewati rawasari..
Semisal semua orang jadi tukang tambal, ban mobil siapa yang bakal ditambal..
Hidup punya hidupnya masing-masing
Jika kita mau jalani dan syukuri..
Jadi bila terima perbedaan sebagai keselarasan..
Itulah keadilan sejati..
Puisi: Borong Emosi (Elegi Part 1.f)
Borong Emosi (Elegi Part 1.f)
Gundah gulana menanti koran pagi
Cuma segelas galau belaka yang menemani
Mentari kian risau menyulut kicau pagi
Pun harap-harap-cemas kubaca berita utama ini
Upah minimum pekerja
Naik !
Tarif dasar listrik
Naik !
Bahan bakar minyak
Naik !
Gas 12 Kg
Naik !
Tarif masuk Tol
Naik !
Harga warung makan
Naik !
Gaji pejabat
Naik !
Cuma harga rupiah dan Moral yang sama-sama turun..
Cuma segelas galau belaka yang menemani
Mentari kian risau menyulut kicau pagi
Pun harap-harap-cemas kubaca berita utama ini
Upah minimum pekerja
Naik !
Tarif dasar listrik
Naik !
Bahan bakar minyak
Naik !
Gas 12 Kg
Naik !
Tarif masuk Tol
Naik !
Harga warung makan
Naik !
Gaji pejabat
Naik !
Cuma harga rupiah dan Moral yang sama-sama turun..
Puisi: Indah Dalam Diam
Dia bisu..
Dia indah..
Dia memiliki ekspresi yg tak terbayangkan..
Dia cantik..sangat cantik
Dia alami...sangat alami..
Dia tidak pernah bohong..aku rasa..
Dia punya senyuman paling lembut..
Dia bersahabat..
Dia sempurna dalam ketidaksempurnaannya..
Dia inspirasi bagi para pemberi inspirasi..
Dia tak terlukiskan..
Lebih dari kata2..
Smakin sering ku memandangnya..
Dia semakin terlihat sempurna..
Tapi ku takkan bisa masuk ke dunianya..
Karena..
Dia memang benar2 Bisu..
^__^
Dia indah..
Dia memiliki ekspresi yg tak terbayangkan..
Dia cantik..sangat cantik
Dia alami...sangat alami..
Dia tidak pernah bohong..aku rasa..
Dia punya senyuman paling lembut..
Dia bersahabat..
Dia sempurna dalam ketidaksempurnaannya..
Dia inspirasi bagi para pemberi inspirasi..
Dia tak terlukiskan..
Lebih dari kata2..
Smakin sering ku memandangnya..
Dia semakin terlihat sempurna..
Tapi ku takkan bisa masuk ke dunianya..
Karena..
Dia memang benar2 Bisu..
^__^
Jumat, 04 Januari 2013
Puisi: "Laron, toilet dan nafsunya"
Kenapa makin banyak laron dalam bak mandi?
Apa musim yang giring mereka?
Atau rayuan lampu tak lagi ampuh?
Mungkin hujan semalam-malaman mengungkit hati para pemain suling
Sampai-sampai pagi buta ikut bernyanyi
Menuntun laron-laron, berduyun-duyun terjun
Menembus rasio yang mereka tak punya
Menembus logika yang mereka tak punya
Dalam insting cuma haus semu
Akhirnya tenggelam dan megambang
Tak tega ku usik lelap baka
Maka kugayung pelan-pelan, mayat-mayat laron yang berserak-serak di genangan yang tenang
Kuhantar ke peraduan
Lubang WC yang sebentar lagi mau kupakai
Apa musim yang giring mereka?
Atau rayuan lampu tak lagi ampuh?
Mungkin hujan semalam-malaman mengungkit hati para pemain suling
Sampai-sampai pagi buta ikut bernyanyi
Menuntun laron-laron, berduyun-duyun terjun
Menembus rasio yang mereka tak punya
Menembus logika yang mereka tak punya
Dalam insting cuma haus semu
Akhirnya tenggelam dan megambang
Tak tega ku usik lelap baka
Maka kugayung pelan-pelan, mayat-mayat laron yang berserak-serak di genangan yang tenang
Kuhantar ke peraduan
Lubang WC yang sebentar lagi mau kupakai
Puisi : "Sweet Rain"
Walau Serapuh itu pelangi tercipta
Namun ia selalu setia menunggu hujan reda
Ia tetap disana, sampai rintik yang terakhir menyentuh bumi
Hingga langit tak lagi meneteskan luka
Pada puing kenangan yang tak pernah lenyap disapu sang waktu..
Kamis, 03 Januari 2013
Puisi: "Lebih berarti dari dunia"
Kau tak terbayangkan
Cahaya yang melintas
Aroma senja yang tak terasa
Dengung sepi ditengah malam
Daun gugur yang menari jatuh
Kertas kosong si penyair
Emosi yang datang, lalu pergi
Setitik bara api terbawa angin
Namun kau ada..
Dan lebih berarti dari dunia..
Rabu, 02 Januari 2013
Puisi: "Saat aku lanjut usia"
Senja makin menua
Ketika tersadar,
Ternyata kita sudah menari cukup lama
Mungkin pesta ini sedetik lagi usai
Tak lagi ramai
Mulai berkabut
Sini..
Duduk sebentar
Secangkir lemon hanga
Buat singkut terpaan dingin yang mengoyak kemudaan
Lelah adanya
Renta memeluk
Pembaringan kita mulai rindu
Menjamah hasrat kita yang linu
Cukuplah menari
Mari berbaring
Sini..
Dekat-dekat biar hangat
Dingin malam kian melekat
Sayang.. lebih merapat
Agar jelas rautmu kulihat
Bila esok tak datang untukku
Dinda..
Biar kukecup hidungmu untuk terakhir
Tetap dekap
Cintaku
Sampai tubuh ini menyerpih
Dan terbang jadi debu
Kita hanya bualan waktu
Tak perlu mencinta
Akhirnya pun akan terpisah
Lenyap bersama alunan lagu
Jangan percaya keabadian..
Tak ada keabadian..
(Elegi part 1.e) Biar Kenangan Segar
Biar Kenangan Segar (Elegi part 1.e)
by David Alexander Jacob on Monday, 22 October 2012 at 21:06 ·
Lari dulu searah sore
Ke lapangan tempat kita mandi hujan dulu
Saat agustus menanti desember
dan pancuran dibelakang rumah yang tak pernah kering
Mentari terbit di ujung jalan aspal menanjak
Iringi langkah ke sekolah
Sapi berjalan beriringan
Roda besi bergesekan dengan jalan
ciptakan bunyi khas ditelinga
Para penyair menyanyikan keagungan-Nya tiap minggu
Lonceng berdentum tiga kali
Tak akan hilang
Memori di desa
(Elegi part 1.d) Pulangkan Sejarah
Pulangkan Sejarah (Elegi part 1.d)
by David Alexander Jacob on Tuesday, 16 October 2012 at 22:44 ·
Temani aku ambil kembali tanah yang sudah aku jual pada sekutu..
Biar dagingku jadi ganti kebodohanku..
Merdeka!!
(Elegi part 1.c) Dihantam Hukum Alam
Dihantam Hukum Alam (Elegi part 1.c)
by David Alexander Jacob on Tuesday, 16 October 2012 at 22:25 ·
Masker hijau serasi dengan rambut bebop coklatmu..
Namun tengkukmu terlalu putih untuk sembunyi..
Kerumunan malam tak lekas pijarkan warnamu..
Kibasan angin, rambutmu menari..
Semampai, dagu tegas, mata bulat mengerling..
Tapi sempurnamu jua, kita takkan pernah saling mencinta..
Karena kita tak beda kelamin..
(Elegi part 1.b) Demam Ketidakpuasan
Demam Ketidakpuasan (Elegi part 1.b)
by David Alexander Jacob on Tuesday, 16 October 2012 at 22:17 ·
Yang disesap tak kunjung habis
namun merinding pula kau mengiri..
Sempat kau mengabdi pada daging
Naluri berbagi di tiup malam
Tak ada kesenangan untukmu selain menerobos lampu merah
Waktu Tuhan jadi utama, kau mau jadi yang esa..
Mentariku harus padam
Tapi lilinmu tak boleh mencair..
Selesai..
Kau ingin lagi..
(Elegi part 1.a) Koreografi masa
Koreografi masa (Elegi part 1.a)
by David Alexander Jacob on Monday, 15 October 2012 at 08:38 ·
Di puerto rico aku dilahirkan
Ditengah perang tomat
Berusaha keluar dari kerumunan ari-ari
Becek dan berair
Matahari sedang tinggi
Kulihat pisau bedah malang melintang
di depan mataku yang masih terkunci
Punya dokter atau tukang jagal
aku tak peduli
Aku dibesarkan di conney island
Sebuah pulau di west coast dekat beverly hills
Yang kuingat hanya kincir besar yang sering kunaiki
Karena dipuncaknyalah aku bisa melihat Eifel dan Liberty dalam satu waktu
Hanya kegembiraan disana
Aku menangis sekali-sekali waktu badut itu berdandan berlebihan
Dan mainanku dipakai anak lain
Aku sempat pindah ke alaska
Tempat dimana Tuhan menaruh AC di langitnya
Terlalu dingin
Akhirnya aku pindah ke Tokyo, Jepang
Tempat kulewati masa puber dengan majalah porno dan doktrin agama
Masa-masa mencari pijakan fundamen yang liar
Akhirnya aku tiba disini
dibumi antah berantah
Tanda tanya dan kegalauan
Kebebasan yang tak merdeka
Kalah
Tapi masih bercita-cita
Aku ingin mati disini
Langganan:
Postingan (Atom)