My Archieve

Tampilkan postingan dengan label Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kristen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juni 2015

Manado.. 
Kota seribu gereja, mungkin lebih. Tiap desa ada gereja, tiap lima langkah ketemu gereja, bahkan kalo mau, tiap keluarga bisa bikin gereja sendiri, no offence, but it's true. 

Juga terkenal dngan sebutan 3B. Bunaken; bubur mnado; dan bibir mnado. Ya emank ga bisa dipungkiri kalo org2 mnado itu ganteng n cantik. Secara, nenek moyang mreka is an open minded person. buktinya, waktu para pelancong spanyol dtng ke tanah minahasa, mreka diterima dngan baik oleh warga lokal. Kawin-mawin, beberapa bahasa dan bhkan kebudayaan spanyol, misalnya tarian diserap menjadi bhasa dan budaya lokal.
begitupun yg terjadi saat portugis dtng, cina, bahkan belanda, juga jepang. 
Inilah hasilnya, orang mnado terlahir dngan prawakan tinggi, putih, hidung mancung. Sangat jauh berbeda dngan nenek moyang ASLI dri suku minahasa.
Menurut legenda dan cerita rakyat dari pusat kebudyaan, sejarah, dan nilai2 tradisional; kbetulan punya saudara di dinas tsb, disebutkan bahwa nenek moyang org mnado ialah seorang putri kerajaan dari mongol. Luar biasa bukan? 
Ok, sekian saja pelajaran sejarahnya, kita lanjut ke pkok pmbahasan. 
Mnado, dngan berbagai suku, tersebar di tanah sulawesi utara, memiliki agama mayoritas, ya, benar, kristen! Tak perduli ia protestan; khatolik; advent; pantekosta; dan puluhan denominasi greja lainnya. Intinya adalah kita semua adalah org kristen. Namun sadarkah kita? Saat ini kita sedang mengalami kemerosotan dan degradasi nilai2 mendasar dr kekristenan itu sendiri!

Para pemudi, juga ibu2 dan tante2 muda, atau merasa muda, dtng ke greja hanya untuk memamerkan seberapa mahal atau seberapa terbukanya baju yg ia kenakan? Atau seberapa cantik ia mrias wajahnya? Atau seberapa banyak persembahan persepuluhan yg kita beri agar dibaca oleh majelis dengan sumringah pada saat warta jemaat? 
Heii! Wake upp! 

Dimana peran greja saat melihat para pemuda tdk prnah dtng ke greja karna mabuk2an di mlm minggu? Atau mungkin saja para majelisnya pun ikut nongkrong sambil minum2 bersama? 
Apa yg anda pikirkan jika melihat para pemain musik keluar dari ruang greja untuk merokok pada saat doa syafaat? 
Apakah greja hanya berakhir sebagai formalitas semata? Bukan! Lebih parah lagi! Greja hanya menjadi ajang show up dan ladang iri dan benci. Saling menjatuhkan, bukan saling menopang. Bicara dibelakang, bukannya menegor untuk membangun. 
Orang2 berbondong2 ke greja hanya pada saat paskah, natal, dan tahun baru. Untuk apa?? 
Bertobat? Atau Bertemu kawan lama? 
Perayaan2 tanpa makna!! Bukan! Hilang makna!! 

Inikah yg disebut penyakit "Menjadi Mayoritas"? 
Atau mungkin ini sebuah social disorders? 
Entahlah, all that i wanna say is.. 
Tak ada salahnya menjadi mayoritas, maka jadikanlah ke-mayoritas-an ini menjadi sebuah kekuatan positive, bukan akhirnya merusak nilai dan arti sebenarnya dari greja itu sendiri. 
Berubahlah. Seperti Tuhan yg slalu memperbaharuimu setiap hari. 
Jika lingkungan gerejamu tak berubah, mulailah dari dirimu sendiri, jadilah lilin, sekecil apapun nyalamu, namun engkau tetap menerangi sekitarmu yg gelap dan berdampak buat org lain.. 
Mulailah dr hal kecil, misalnya, ajak teman2mu ke greja bersama, dtng lebih awal untuk mempersiapkan hati untuk beribadah, tetap menjaga hubungan pribadi yang baik dengan Allah dan manusia, baca alkitab dan teruslah berdoa. 
Niscaya terang yg kau bawa, mampu menyalakan lilin2 lain yg sedang padam:) 
God bless you manado.. 
I'll always missing your breeze.. ^^

Jumat, 19 Juni 2015

Puisi: Nyanyian Adam

Malu 
Jika itu mau-Mu 
aku takkan ragu 

Malu 
Kalau pun masih ada 
aku ingin tahu 

Malu 
Asal bukan ditengah 
aku tetap patuh 

Malu 
karena dosa 
atau tak pakai baju 

Malu 
aku tak mau 
melihat kemaluanku 

Malu 
jika tak begitu 
tak ada aku 

Malu 
pada siapa 
Hanya Dia yang tahu

Puisi: Salah

12 January 2013 at 06:05

Bumi khianat 
Langit tak mau runtuh 
Menyusuri kiamat 
Gonggongan manusia bagai gemuruh 

Syahdu kebohongan 
Berkumandang ditiap sudutnya 
Jangan umbar muluk angan 
Reda pula di bait-Nya 

Ku hanya makhluk endemik 
Terkapar menunggu maut 
Bila penuh polemik 
Aku kan lebur dengan laut 

Bila pun seandai surga terbuka untukku 
Takkan terkesima aku 
Karena sungguh tak pantas jua 
Sedetikpun hamba melawat hariba'an-Nya