Manado..
Kota seribu gereja, mungkin lebih. Tiap desa ada gereja, tiap lima langkah ketemu gereja, bahkan kalo mau, tiap keluarga bisa bikin gereja sendiri, no offence, but it's true.
Juga terkenal dngan sebutan 3B. Bunaken; bubur mnado; dan bibir mnado. Ya emank ga bisa dipungkiri kalo org2 mnado itu ganteng n cantik. Secara, nenek moyang mreka is an open minded person. buktinya, waktu para pelancong spanyol dtng ke tanah minahasa, mreka diterima dngan baik oleh warga lokal. Kawin-mawin, beberapa bahasa dan bhkan kebudayaan spanyol, misalnya tarian diserap menjadi bhasa dan budaya lokal.
begitupun yg terjadi saat portugis dtng, cina, bahkan belanda, juga jepang.
Inilah hasilnya, orang mnado terlahir dngan prawakan tinggi, putih, hidung mancung. Sangat jauh berbeda dngan nenek moyang ASLI dri suku minahasa.
Menurut legenda dan cerita rakyat dari pusat kebudyaan, sejarah, dan nilai2 tradisional; kbetulan punya saudara di dinas tsb, disebutkan bahwa nenek moyang org mnado ialah seorang putri kerajaan dari mongol. Luar biasa bukan?
Ok, sekian saja pelajaran sejarahnya, kita lanjut ke pkok pmbahasan.
Mnado, dngan berbagai suku, tersebar di tanah sulawesi utara, memiliki agama mayoritas, ya, benar, kristen! Tak perduli ia protestan; khatolik; advent; pantekosta; dan puluhan denominasi greja lainnya. Intinya adalah kita semua adalah org kristen. Namun sadarkah kita? Saat ini kita sedang mengalami kemerosotan dan degradasi nilai2 mendasar dr kekristenan itu sendiri!
Para pemudi, juga ibu2 dan tante2 muda, atau merasa muda, dtng ke greja hanya untuk memamerkan seberapa mahal atau seberapa terbukanya baju yg ia kenakan? Atau seberapa cantik ia mrias wajahnya? Atau seberapa banyak persembahan persepuluhan yg kita beri agar dibaca oleh majelis dengan sumringah pada saat warta jemaat?
Heii! Wake upp!
Dimana peran greja saat melihat para pemuda tdk prnah dtng ke greja karna mabuk2an di mlm minggu? Atau mungkin saja para majelisnya pun ikut nongkrong sambil minum2 bersama?
Apa yg anda pikirkan jika melihat para pemain musik keluar dari ruang greja untuk merokok pada saat doa syafaat?
Apakah greja hanya berakhir sebagai formalitas semata? Bukan! Lebih parah lagi! Greja hanya menjadi ajang show up dan ladang iri dan benci. Saling menjatuhkan, bukan saling menopang. Bicara dibelakang, bukannya menegor untuk membangun.
Orang2 berbondong2 ke greja hanya pada saat paskah, natal, dan tahun baru. Untuk apa??
Bertobat? Atau Bertemu kawan lama?
Perayaan2 tanpa makna!! Bukan! Hilang makna!!
Inikah yg disebut penyakit "Menjadi Mayoritas"?
Atau mungkin ini sebuah social disorders?
Entahlah, all that i wanna say is..
Tak ada salahnya menjadi mayoritas, maka jadikanlah ke-mayoritas-an ini menjadi sebuah kekuatan positive, bukan akhirnya merusak nilai dan arti sebenarnya dari greja itu sendiri.
Berubahlah. Seperti Tuhan yg slalu memperbaharuimu setiap hari.
Jika lingkungan gerejamu tak berubah, mulailah dari dirimu sendiri, jadilah lilin, sekecil apapun nyalamu, namun engkau tetap menerangi sekitarmu yg gelap dan berdampak buat org lain..
Mulailah dr hal kecil, misalnya, ajak teman2mu ke greja bersama, dtng lebih awal untuk mempersiapkan hati untuk beribadah, tetap menjaga hubungan pribadi yang baik dengan Allah dan manusia, baca alkitab dan teruslah berdoa.
Niscaya terang yg kau bawa, mampu menyalakan lilin2 lain yg sedang padam:)
God bless you manado..
I'll always missing your breeze.. ^^
Kumpulan Puisi Mahasiswa Hampir Abadi.. Ini Karya Gw, David.. Enjoy It ^^
My Archieve
Tampilkan postingan dengan label Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kristen. Tampilkan semua postingan
Minggu, 21 Juni 2015
Jumat, 19 Juni 2015
Puisi: Nyanyian Adam
Malu
Jika itu mau-Mu
aku takkan ragu
Malu
Kalau pun masih ada
aku ingin tahu
Malu
Asal bukan ditengah
aku tetap patuh
Malu
karena dosa
atau tak pakai baju
Malu
aku tak mau
melihat kemaluanku
Malu
jika tak begitu
tak ada aku
Malu
pada siapa
Hanya Dia yang tahu
Jika itu mau-Mu
aku takkan ragu
Malu
Kalau pun masih ada
aku ingin tahu
Malu
Asal bukan ditengah
aku tetap patuh
Malu
karena dosa
atau tak pakai baju
Malu
aku tak mau
melihat kemaluanku
Malu
jika tak begitu
tak ada aku
Malu
pada siapa
Hanya Dia yang tahu
Puisi: Salah
12 January 2013 at 06:05
Bumi khianat
Langit tak mau runtuh
Menyusuri kiamat
Gonggongan manusia bagai gemuruh
Syahdu kebohongan
Berkumandang ditiap sudutnya
Jangan umbar muluk angan
Reda pula di bait-Nya
Ku hanya makhluk endemik
Terkapar menunggu maut
Bila penuh polemik
Aku kan lebur dengan laut
Bila pun seandai surga terbuka untukku
Takkan terkesima aku
Karena sungguh tak pantas jua
Sedetikpun hamba melawat hariba'an-Nya
Bumi khianat
Langit tak mau runtuh
Menyusuri kiamat
Gonggongan manusia bagai gemuruh
Syahdu kebohongan
Berkumandang ditiap sudutnya
Jangan umbar muluk angan
Reda pula di bait-Nya
Ku hanya makhluk endemik
Terkapar menunggu maut
Bila penuh polemik
Aku kan lebur dengan laut
Bila pun seandai surga terbuka untukku
Takkan terkesima aku
Karena sungguh tak pantas jua
Sedetikpun hamba melawat hariba'an-Nya
Langganan:
Postingan (Atom)