Ditengah plural kita berpelukan
hanya kita.. Hitam
yang lain putih..
Sorot mata itu..
Sorot yang tak asing
sedikit curiga
Mungkin takut
Tapi lebih banyak iri
Seperti terik menembus kaca
kita terus tenang
sudah biasa.. Mungkin
tapi..
Masih belum merdeka
Masih mencoba merdeka
Lepas dari stigma, lepas dari sang "mereka"..
Saya tetap aku
kami bukan kita
kita belum mereka
jadi, siapa saya?
Hitam yang mencoba jadi putih?
Merasa putih?
Atau berpura-pura putih?
Kumpulan Puisi Mahasiswa Hampir Abadi.. Ini Karya Gw, David.. Enjoy It ^^
My Archieve
Tampilkan postingan dengan label Elegi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Elegi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 23 Juni 2015
Senin, 22 Juni 2015
Puisi : Ingin Pulang
Tidak
harus
dengan gegap
atau gempita
diamdiam saja
tanpa jasa
tanpa gelar
purapura kelar
mungkin
ongkos pesawatku
dari kota ke desa
lebih mahal
dari manusia normal
pengap sendiri
dalam bagasi
kaku dalam peti
berdesakkan dengan koper lain
tidak
harus
dengan tangis
atau haru
gali lubang saja
tanpa pendeta
tanpa majelis
cukup purapura menangis
begitu nyaman di tanah sendiri...
Minggu, 21 Juni 2015
Manado..
Kota seribu gereja, mungkin lebih. Tiap desa ada gereja, tiap lima langkah ketemu gereja, bahkan kalo mau, tiap keluarga bisa bikin gereja sendiri, no offence, but it's true.
Juga terkenal dngan sebutan 3B. Bunaken; bubur mnado; dan bibir mnado. Ya emank ga bisa dipungkiri kalo org2 mnado itu ganteng n cantik. Secara, nenek moyang mreka is an open minded person. buktinya, waktu para pelancong spanyol dtng ke tanah minahasa, mreka diterima dngan baik oleh warga lokal. Kawin-mawin, beberapa bahasa dan bhkan kebudayaan spanyol, misalnya tarian diserap menjadi bhasa dan budaya lokal.
begitupun yg terjadi saat portugis dtng, cina, bahkan belanda, juga jepang.
Inilah hasilnya, orang mnado terlahir dngan prawakan tinggi, putih, hidung mancung. Sangat jauh berbeda dngan nenek moyang ASLI dri suku minahasa.
Menurut legenda dan cerita rakyat dari pusat kebudyaan, sejarah, dan nilai2 tradisional; kbetulan punya saudara di dinas tsb, disebutkan bahwa nenek moyang org mnado ialah seorang putri kerajaan dari mongol. Luar biasa bukan?
Ok, sekian saja pelajaran sejarahnya, kita lanjut ke pkok pmbahasan.
Mnado, dngan berbagai suku, tersebar di tanah sulawesi utara, memiliki agama mayoritas, ya, benar, kristen! Tak perduli ia protestan; khatolik; advent; pantekosta; dan puluhan denominasi greja lainnya. Intinya adalah kita semua adalah org kristen. Namun sadarkah kita? Saat ini kita sedang mengalami kemerosotan dan degradasi nilai2 mendasar dr kekristenan itu sendiri!
Para pemudi, juga ibu2 dan tante2 muda, atau merasa muda, dtng ke greja hanya untuk memamerkan seberapa mahal atau seberapa terbukanya baju yg ia kenakan? Atau seberapa cantik ia mrias wajahnya? Atau seberapa banyak persembahan persepuluhan yg kita beri agar dibaca oleh majelis dengan sumringah pada saat warta jemaat?
Heii! Wake upp!
Dimana peran greja saat melihat para pemuda tdk prnah dtng ke greja karna mabuk2an di mlm minggu? Atau mungkin saja para majelisnya pun ikut nongkrong sambil minum2 bersama?
Apa yg anda pikirkan jika melihat para pemain musik keluar dari ruang greja untuk merokok pada saat doa syafaat?
Apakah greja hanya berakhir sebagai formalitas semata? Bukan! Lebih parah lagi! Greja hanya menjadi ajang show up dan ladang iri dan benci. Saling menjatuhkan, bukan saling menopang. Bicara dibelakang, bukannya menegor untuk membangun.
Orang2 berbondong2 ke greja hanya pada saat paskah, natal, dan tahun baru. Untuk apa??
Bertobat? Atau Bertemu kawan lama?
Perayaan2 tanpa makna!! Bukan! Hilang makna!!
Inikah yg disebut penyakit "Menjadi Mayoritas"?
Atau mungkin ini sebuah social disorders?
Entahlah, all that i wanna say is..
Tak ada salahnya menjadi mayoritas, maka jadikanlah ke-mayoritas-an ini menjadi sebuah kekuatan positive, bukan akhirnya merusak nilai dan arti sebenarnya dari greja itu sendiri.
Berubahlah. Seperti Tuhan yg slalu memperbaharuimu setiap hari.
Jika lingkungan gerejamu tak berubah, mulailah dari dirimu sendiri, jadilah lilin, sekecil apapun nyalamu, namun engkau tetap menerangi sekitarmu yg gelap dan berdampak buat org lain..
Mulailah dr hal kecil, misalnya, ajak teman2mu ke greja bersama, dtng lebih awal untuk mempersiapkan hati untuk beribadah, tetap menjaga hubungan pribadi yang baik dengan Allah dan manusia, baca alkitab dan teruslah berdoa.
Niscaya terang yg kau bawa, mampu menyalakan lilin2 lain yg sedang padam:)
God bless you manado..
I'll always missing your breeze.. ^^
Kota seribu gereja, mungkin lebih. Tiap desa ada gereja, tiap lima langkah ketemu gereja, bahkan kalo mau, tiap keluarga bisa bikin gereja sendiri, no offence, but it's true.
Juga terkenal dngan sebutan 3B. Bunaken; bubur mnado; dan bibir mnado. Ya emank ga bisa dipungkiri kalo org2 mnado itu ganteng n cantik. Secara, nenek moyang mreka is an open minded person. buktinya, waktu para pelancong spanyol dtng ke tanah minahasa, mreka diterima dngan baik oleh warga lokal. Kawin-mawin, beberapa bahasa dan bhkan kebudayaan spanyol, misalnya tarian diserap menjadi bhasa dan budaya lokal.
begitupun yg terjadi saat portugis dtng, cina, bahkan belanda, juga jepang.
Inilah hasilnya, orang mnado terlahir dngan prawakan tinggi, putih, hidung mancung. Sangat jauh berbeda dngan nenek moyang ASLI dri suku minahasa.
Menurut legenda dan cerita rakyat dari pusat kebudyaan, sejarah, dan nilai2 tradisional; kbetulan punya saudara di dinas tsb, disebutkan bahwa nenek moyang org mnado ialah seorang putri kerajaan dari mongol. Luar biasa bukan?
Ok, sekian saja pelajaran sejarahnya, kita lanjut ke pkok pmbahasan.
Mnado, dngan berbagai suku, tersebar di tanah sulawesi utara, memiliki agama mayoritas, ya, benar, kristen! Tak perduli ia protestan; khatolik; advent; pantekosta; dan puluhan denominasi greja lainnya. Intinya adalah kita semua adalah org kristen. Namun sadarkah kita? Saat ini kita sedang mengalami kemerosotan dan degradasi nilai2 mendasar dr kekristenan itu sendiri!
Para pemudi, juga ibu2 dan tante2 muda, atau merasa muda, dtng ke greja hanya untuk memamerkan seberapa mahal atau seberapa terbukanya baju yg ia kenakan? Atau seberapa cantik ia mrias wajahnya? Atau seberapa banyak persembahan persepuluhan yg kita beri agar dibaca oleh majelis dengan sumringah pada saat warta jemaat?
Heii! Wake upp!
Dimana peran greja saat melihat para pemuda tdk prnah dtng ke greja karna mabuk2an di mlm minggu? Atau mungkin saja para majelisnya pun ikut nongkrong sambil minum2 bersama?
Apa yg anda pikirkan jika melihat para pemain musik keluar dari ruang greja untuk merokok pada saat doa syafaat?
Apakah greja hanya berakhir sebagai formalitas semata? Bukan! Lebih parah lagi! Greja hanya menjadi ajang show up dan ladang iri dan benci. Saling menjatuhkan, bukan saling menopang. Bicara dibelakang, bukannya menegor untuk membangun.
Orang2 berbondong2 ke greja hanya pada saat paskah, natal, dan tahun baru. Untuk apa??
Bertobat? Atau Bertemu kawan lama?
Perayaan2 tanpa makna!! Bukan! Hilang makna!!
Inikah yg disebut penyakit "Menjadi Mayoritas"?
Atau mungkin ini sebuah social disorders?
Entahlah, all that i wanna say is..
Tak ada salahnya menjadi mayoritas, maka jadikanlah ke-mayoritas-an ini menjadi sebuah kekuatan positive, bukan akhirnya merusak nilai dan arti sebenarnya dari greja itu sendiri.
Berubahlah. Seperti Tuhan yg slalu memperbaharuimu setiap hari.
Jika lingkungan gerejamu tak berubah, mulailah dari dirimu sendiri, jadilah lilin, sekecil apapun nyalamu, namun engkau tetap menerangi sekitarmu yg gelap dan berdampak buat org lain..
Mulailah dr hal kecil, misalnya, ajak teman2mu ke greja bersama, dtng lebih awal untuk mempersiapkan hati untuk beribadah, tetap menjaga hubungan pribadi yang baik dengan Allah dan manusia, baca alkitab dan teruslah berdoa.
Niscaya terang yg kau bawa, mampu menyalakan lilin2 lain yg sedang padam:)
God bless you manado..
I'll always missing your breeze.. ^^
Sabtu, 20 Juni 2015
Puisi: "Sudah.. cukup.."
Cuma separuh
Keriaan membelah sepi
Digawangi hasrat sekilas
Waktu hujan dihari minggu
Kiat demi kata merupa fantasi
Deru rintik beradu aspal
Kala berteduh melawan dingin dan melankolia
Sebuah bercak tergenang hanyut susut
Ingin lama berteduh
Tapi secepat angin utara
Seka geliat awan hitam
Hingga kikis semua asa, lalu pudar
Terseokseok pulang
Semua gamang terucap
Tak perlu diukir atau tersurat
Hanya
Diam
Malu
Senyum
Lalu
Pergi
Kiranya hanya fana
Tak lagi menghasrat kini
Serdadu mengarak jasad kesabaran
Tak satupun menangis
Memang tak ada yang harus, perlu atau pantas ditangisi
Cuma lembaran kusut dan kelam
Hanyut bersama bercak pelangi digenangan
Menuju rumah kurakura
Lembab dan kotor
Walau purapura
sempat terkesima aku sedetik
Paruparu akan tetap mengecap udara
Tak ada yang perlu dikhawatirkan
Meski gerimis menyerbu
Saatnya serdadu pulang
Peluru dan panah tertancap
Mungkin robek, tembus sampai ke hati
Tak ada yang harus, perlu atau pantas ditangisi
Toh siang masih dimakan senja
Dan pagi masih datang membakar bulan
Tak ada yang harus, perlu atau pantas ditangisi
Keriaan membelah sepi
Digawangi hasrat sekilas
Waktu hujan dihari minggu
Kiat demi kata merupa fantasi
Deru rintik beradu aspal
Kala berteduh melawan dingin dan melankolia
Sebuah bercak tergenang hanyut susut
Ingin lama berteduh
Tapi secepat angin utara
Seka geliat awan hitam
Hingga kikis semua asa, lalu pudar
Terseokseok pulang
Semua gamang terucap
Tak perlu diukir atau tersurat
Hanya
Diam
Malu
Senyum
Lalu
Pergi
Kiranya hanya fana
Tak lagi menghasrat kini
Serdadu mengarak jasad kesabaran
Tak satupun menangis
Memang tak ada yang harus, perlu atau pantas ditangisi
Cuma lembaran kusut dan kelam
Hanyut bersama bercak pelangi digenangan
Menuju rumah kurakura
Lembab dan kotor
Walau purapura
sempat terkesima aku sedetik
Paruparu akan tetap mengecap udara
Tak ada yang perlu dikhawatirkan
Meski gerimis menyerbu
Saatnya serdadu pulang
Peluru dan panah tertancap
Mungkin robek, tembus sampai ke hati
Tak ada yang harus, perlu atau pantas ditangisi
Toh siang masih dimakan senja
Dan pagi masih datang membakar bulan
Tak ada yang harus, perlu atau pantas ditangisi
Jumat, 19 Juni 2015
Puisi: Nyanyian Adam
Malu
Jika itu mau-Mu
aku takkan ragu
Malu
Kalau pun masih ada
aku ingin tahu
Malu
Asal bukan ditengah
aku tetap patuh
Malu
karena dosa
atau tak pakai baju
Malu
aku tak mau
melihat kemaluanku
Malu
jika tak begitu
tak ada aku
Malu
pada siapa
Hanya Dia yang tahu
Jika itu mau-Mu
aku takkan ragu
Malu
Kalau pun masih ada
aku ingin tahu
Malu
Asal bukan ditengah
aku tetap patuh
Malu
karena dosa
atau tak pakai baju
Malu
aku tak mau
melihat kemaluanku
Malu
jika tak begitu
tak ada aku
Malu
pada siapa
Hanya Dia yang tahu
Puisi: "Mungkin Kita.."
Dalam kotak, sepi menyesak
selaput bimbang, angan terbang
apa guna aksara tergeletak?
Jika tak keruan menggali benak
pening kepala ini
pikirpikir yang tak terpikirkan
terkaterka subjek astral
ujungujung jadi batu didekat empedu
berkelit emosi jadi benalu
Tuhan..
'Pabila benar runtuk ini
kutuk saja aku
Tuhan..
'Pabila habis sabar ini
habisi saja aku
disana tergeletak pusaran
air api beradu dendam
kian beradu tapi tak menyatu
duadua tersulut rindu
tapi tak sesadar yang mereka tahu
padahal, sekiranya benar..
Musti perbedaan jadi nada pengertian jadi melodinya dunia hanya panggungnya sedang kitalah lagunya
andai kita tahu
Mungkin kita... ...
selaput bimbang, angan terbang
apa guna aksara tergeletak?
Jika tak keruan menggali benak
pening kepala ini
pikirpikir yang tak terpikirkan
terkaterka subjek astral
ujungujung jadi batu didekat empedu
berkelit emosi jadi benalu
Tuhan..
'Pabila benar runtuk ini
kutuk saja aku
Tuhan..
'Pabila habis sabar ini
habisi saja aku
disana tergeletak pusaran
air api beradu dendam
kian beradu tapi tak menyatu
duadua tersulut rindu
tapi tak sesadar yang mereka tahu
padahal, sekiranya benar..
Musti perbedaan jadi nada pengertian jadi melodinya dunia hanya panggungnya sedang kitalah lagunya
andai kita tahu
Mungkin kita... ...
Puisi: Salah
12 January 2013 at 06:05
Bumi khianat
Langit tak mau runtuh
Menyusuri kiamat
Gonggongan manusia bagai gemuruh
Syahdu kebohongan
Berkumandang ditiap sudutnya
Jangan umbar muluk angan
Reda pula di bait-Nya
Ku hanya makhluk endemik
Terkapar menunggu maut
Bila penuh polemik
Aku kan lebur dengan laut
Bila pun seandai surga terbuka untukku
Takkan terkesima aku
Karena sungguh tak pantas jua
Sedetikpun hamba melawat hariba'an-Nya
Bumi khianat
Langit tak mau runtuh
Menyusuri kiamat
Gonggongan manusia bagai gemuruh
Syahdu kebohongan
Berkumandang ditiap sudutnya
Jangan umbar muluk angan
Reda pula di bait-Nya
Ku hanya makhluk endemik
Terkapar menunggu maut
Bila penuh polemik
Aku kan lebur dengan laut
Bila pun seandai surga terbuka untukku
Takkan terkesima aku
Karena sungguh tak pantas jua
Sedetikpun hamba melawat hariba'an-Nya
Puisi: Borong Emosi (Elegi Part 1.f)
Borong Emosi (Elegi Part 1.f)
Gundah gulana menanti koran pagi
Cuma segelas galau belaka yang menemani
Mentari kian risau menyulut kicau pagi
Pun harap-harap-cemas kubaca berita utama ini
Upah minimum pekerja
Naik !
Tarif dasar listrik
Naik !
Bahan bakar minyak
Naik !
Gas 12 Kg
Naik !
Tarif masuk Tol
Naik !
Harga warung makan
Naik !
Gaji pejabat
Naik !
Cuma harga rupiah dan Moral yang sama-sama turun..
Cuma segelas galau belaka yang menemani
Mentari kian risau menyulut kicau pagi
Pun harap-harap-cemas kubaca berita utama ini
Upah minimum pekerja
Naik !
Tarif dasar listrik
Naik !
Bahan bakar minyak
Naik !
Gas 12 Kg
Naik !
Tarif masuk Tol
Naik !
Harga warung makan
Naik !
Gaji pejabat
Naik !
Cuma harga rupiah dan Moral yang sama-sama turun..
Rabu, 02 Januari 2013
Elegi : Part 2
Elegi - part 2
by David Alexander Jacob on Thursday, 11 October 2012 at 08:20 ·
Aksara menganga
Lubang tragedi
Tergulung dermaga
Pohon keriput
Komedi recehan
Cahaya berakar
Mata merekah
Dibuai polusi
Miniatur percintaan
Gantung diri dengan dendam
Mati separuh
Musuh gravitasi
Alunan horizontal
Jemari asa
Peniti maya
Lidah berduri
Tangis mezzoforte
Jazz kelabu
Tol neraka
Hampir kunangkunang
Pengamen 80'an
Kacamata cantik
Arah jam setengah 5
Sore
Keroncong bolong
Kurang makan
Kurang sopan
kurang tidur
Kurang ajar
Pramuka tak lagi siaga
Maling budaya merajalela
Sampahpun dicuri
Payung imajinasi
Rawa berdalih
Rumput menanti
Kering pagipagi
Nafkah sempit
Jual diri
Nunggak hidup
Terjebak ibukota
Elegi : Part 1
Elegi - part 1
by David Alexander Jacob on Tuesday, 9 October 2012 at 12:35 ·
Koreografi masa
Demam ketidakpuasan
Dihantam hukum alam
Pulangkan sejarah
Biar kenangan segar
Borong emosi
Sampai riuh batinnya
Tak sampai merdeka
Masih merahkah semangat
Masih putihkah nurani
Bazaar cinta berbalasan
Kerumunan hati tersengat
Yang berduri menangis
Terang jadi salah
Spanduk munafik
Sekolah siang
Menara listrik
Pemulung cassanova
Cermin pesanan
24 jam sehari
Garis besar
tak simpatik
Dokter gelonggongan
Masker pendosa
Peluh berbuih
Pendirian mesum
Perkemahan para pelesu dan peletih
Langganan:
Postingan (Atom)