My Archieve

Tampilkan postingan dengan label Elegi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Elegi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juni 2015

Puisi: The lover & The Rascist

Ditengah plural kita berpelukan 
hanya kita.. Hitam 
yang lain putih.. 

Sorot mata itu.. 
Sorot yang tak asing 
sedikit curiga 
Mungkin takut 
Tapi lebih banyak iri 
Seperti terik menembus kaca 
kita terus tenang 
sudah biasa.. Mungkin 

tapi.. 
Masih belum merdeka 
Masih mencoba merdeka 
Lepas dari stigma, lepas dari sang "mereka".. 

Saya tetap aku 
kami bukan kita 
kita belum mereka 
jadi, siapa saya? 

Hitam yang mencoba jadi putih? 
Merasa putih? 
Atau berpura-pura putih?

Senin, 22 Juni 2015

Puisi : Ingin Pulang


Tidak 
harus 
dengan gegap 
atau gempita 
diamdiam saja 
tanpa jasa 
tanpa gelar 
purapura kelar 

mungkin 
ongkos pesawatku 
dari kota ke desa 
lebih mahal 
dari manusia normal 
pengap sendiri 
dalam bagasi 
kaku dalam peti 
berdesakkan dengan koper lain 

tidak 
harus 
dengan tangis 
atau haru 
gali lubang saja 
tanpa pendeta 
tanpa majelis 
cukup purapura menangis 

begitu nyaman di tanah sendiri...

Minggu, 21 Juni 2015

Manado.. 
Kota seribu gereja, mungkin lebih. Tiap desa ada gereja, tiap lima langkah ketemu gereja, bahkan kalo mau, tiap keluarga bisa bikin gereja sendiri, no offence, but it's true. 

Juga terkenal dngan sebutan 3B. Bunaken; bubur mnado; dan bibir mnado. Ya emank ga bisa dipungkiri kalo org2 mnado itu ganteng n cantik. Secara, nenek moyang mreka is an open minded person. buktinya, waktu para pelancong spanyol dtng ke tanah minahasa, mreka diterima dngan baik oleh warga lokal. Kawin-mawin, beberapa bahasa dan bhkan kebudayaan spanyol, misalnya tarian diserap menjadi bhasa dan budaya lokal.
begitupun yg terjadi saat portugis dtng, cina, bahkan belanda, juga jepang. 
Inilah hasilnya, orang mnado terlahir dngan prawakan tinggi, putih, hidung mancung. Sangat jauh berbeda dngan nenek moyang ASLI dri suku minahasa.
Menurut legenda dan cerita rakyat dari pusat kebudyaan, sejarah, dan nilai2 tradisional; kbetulan punya saudara di dinas tsb, disebutkan bahwa nenek moyang org mnado ialah seorang putri kerajaan dari mongol. Luar biasa bukan? 
Ok, sekian saja pelajaran sejarahnya, kita lanjut ke pkok pmbahasan. 
Mnado, dngan berbagai suku, tersebar di tanah sulawesi utara, memiliki agama mayoritas, ya, benar, kristen! Tak perduli ia protestan; khatolik; advent; pantekosta; dan puluhan denominasi greja lainnya. Intinya adalah kita semua adalah org kristen. Namun sadarkah kita? Saat ini kita sedang mengalami kemerosotan dan degradasi nilai2 mendasar dr kekristenan itu sendiri!

Para pemudi, juga ibu2 dan tante2 muda, atau merasa muda, dtng ke greja hanya untuk memamerkan seberapa mahal atau seberapa terbukanya baju yg ia kenakan? Atau seberapa cantik ia mrias wajahnya? Atau seberapa banyak persembahan persepuluhan yg kita beri agar dibaca oleh majelis dengan sumringah pada saat warta jemaat? 
Heii! Wake upp! 

Dimana peran greja saat melihat para pemuda tdk prnah dtng ke greja karna mabuk2an di mlm minggu? Atau mungkin saja para majelisnya pun ikut nongkrong sambil minum2 bersama? 
Apa yg anda pikirkan jika melihat para pemain musik keluar dari ruang greja untuk merokok pada saat doa syafaat? 
Apakah greja hanya berakhir sebagai formalitas semata? Bukan! Lebih parah lagi! Greja hanya menjadi ajang show up dan ladang iri dan benci. Saling menjatuhkan, bukan saling menopang. Bicara dibelakang, bukannya menegor untuk membangun. 
Orang2 berbondong2 ke greja hanya pada saat paskah, natal, dan tahun baru. Untuk apa?? 
Bertobat? Atau Bertemu kawan lama? 
Perayaan2 tanpa makna!! Bukan! Hilang makna!! 

Inikah yg disebut penyakit "Menjadi Mayoritas"? 
Atau mungkin ini sebuah social disorders? 
Entahlah, all that i wanna say is.. 
Tak ada salahnya menjadi mayoritas, maka jadikanlah ke-mayoritas-an ini menjadi sebuah kekuatan positive, bukan akhirnya merusak nilai dan arti sebenarnya dari greja itu sendiri. 
Berubahlah. Seperti Tuhan yg slalu memperbaharuimu setiap hari. 
Jika lingkungan gerejamu tak berubah, mulailah dari dirimu sendiri, jadilah lilin, sekecil apapun nyalamu, namun engkau tetap menerangi sekitarmu yg gelap dan berdampak buat org lain.. 
Mulailah dr hal kecil, misalnya, ajak teman2mu ke greja bersama, dtng lebih awal untuk mempersiapkan hati untuk beribadah, tetap menjaga hubungan pribadi yang baik dengan Allah dan manusia, baca alkitab dan teruslah berdoa. 
Niscaya terang yg kau bawa, mampu menyalakan lilin2 lain yg sedang padam:) 
God bless you manado.. 
I'll always missing your breeze.. ^^

Sabtu, 20 Juni 2015

Puisi: "Sudah.. cukup.."

Cuma separuh 
Keriaan membelah sepi 
Digawangi hasrat sekilas 
Waktu hujan dihari minggu 

Kiat demi kata merupa fantasi 
Deru rintik beradu aspal 
Kala berteduh melawan dingin dan melankolia 
Sebuah bercak tergenang hanyut susut 

Ingin lama berteduh 
Tapi secepat angin utara 
Seka geliat awan hitam 
Hingga kikis semua asa, lalu pudar 
Terseokseok pulang 

Semua gamang terucap 
Tak perlu diukir atau tersurat 
Hanya 
Diam 
Malu 
Senyum 
Lalu 
Pergi 

Kiranya hanya fana 
Tak lagi menghasrat kini 
Serdadu mengarak jasad kesabaran 
Tak satupun menangis 
Memang tak ada yang harus, perlu atau pantas ditangisi 

Cuma lembaran kusut dan kelam 
Hanyut bersama bercak pelangi digenangan 
Menuju rumah kurakura 
Lembab dan kotor 

Walau purapura 
sempat terkesima aku sedetik 
Paruparu akan tetap mengecap udara 
Tak ada yang perlu dikhawatirkan 
Meski gerimis menyerbu 

Saatnya serdadu pulang 
Peluru dan panah tertancap 
Mungkin robek, tembus sampai ke hati 

Tak ada yang harus, perlu atau pantas ditangisi 
Toh siang masih dimakan senja 
Dan pagi masih datang membakar bulan 

Tak ada yang harus, perlu atau pantas ditangisi

Jumat, 19 Juni 2015

Puisi: Nyanyian Adam

Malu 
Jika itu mau-Mu 
aku takkan ragu 

Malu 
Kalau pun masih ada 
aku ingin tahu 

Malu 
Asal bukan ditengah 
aku tetap patuh 

Malu 
karena dosa 
atau tak pakai baju 

Malu 
aku tak mau 
melihat kemaluanku 

Malu 
jika tak begitu 
tak ada aku 

Malu 
pada siapa 
Hanya Dia yang tahu

Puisi: "Mungkin Kita.."

Dalam kotak, sepi menyesak 
selaput bimbang, angan terbang 
apa guna aksara tergeletak? 
Jika tak keruan menggali benak 

pening kepala ini 
pikirpikir yang tak terpikirkan 
terkaterka subjek astral 
ujungujung jadi batu didekat empedu 
berkelit emosi jadi benalu 

Tuhan.. 
'Pabila benar runtuk ini 
kutuk saja aku 

Tuhan.. 
'Pabila habis sabar ini 
habisi saja aku 

disana tergeletak pusaran 
air api beradu dendam 
kian beradu tapi tak menyatu 
duadua tersulut rindu 
tapi tak sesadar yang mereka tahu

padahal, sekiranya benar.. 
Musti perbedaan jadi nada pengertian jadi melodinya dunia hanya panggungnya sedang kitalah lagunya 
andai kita tahu 
Mungkin kita... ...

Puisi: Salah

12 January 2013 at 06:05

Bumi khianat 
Langit tak mau runtuh 
Menyusuri kiamat 
Gonggongan manusia bagai gemuruh 

Syahdu kebohongan 
Berkumandang ditiap sudutnya 
Jangan umbar muluk angan 
Reda pula di bait-Nya 

Ku hanya makhluk endemik 
Terkapar menunggu maut 
Bila penuh polemik 
Aku kan lebur dengan laut 

Bila pun seandai surga terbuka untukku 
Takkan terkesima aku 
Karena sungguh tak pantas jua 
Sedetikpun hamba melawat hariba'an-Nya

Puisi: Borong Emosi (Elegi Part 1.f)

Borong Emosi (Elegi Part 1.f)

Gundah gulana menanti koran pagi
Cuma segelas galau belaka yang menemani
Mentari kian risau menyulut kicau pagi
Pun harap-harap-cemas kubaca berita utama ini 


Upah minimum pekerja 
Naik !
Tarif dasar listrik 
Naik !
Bahan bakar minyak 
Naik !
Gas 12 Kg 
Naik !
Tarif masuk Tol 
Naik !
Harga warung makan 
Naik !
Gaji pejabat 
Naik !

Cuma harga rupiah dan Moral yang sama-sama turun..

Rabu, 02 Januari 2013

Elegi : Part 2

Elegi - part 2

by David Alexander Jacob on Thursday, 11 October 2012 at 08:20 ·


Aksara menganga
Lubang tragedi
Tergulung dermaga
Pohon keriput
Komedi recehan
Cahaya berakar
Mata merekah
Dibuai polusi
Miniatur percintaan
Gantung diri dengan dendam
Mati separuh
Musuh gravitasi
Alunan horizontal
Jemari asa
Peniti maya
Lidah berduri
Tangis mezzoforte
Jazz kelabu
Tol neraka
Hampir kunangkunang
Pengamen 80'an
Kacamata cantik
Arah jam setengah 5
Sore
Keroncong bolong
Kurang makan
Kurang sopan
kurang tidur
Kurang ajar
Pramuka tak lagi siaga
Maling budaya merajalela
Sampahpun dicuri
Payung imajinasi
Rawa berdalih
Rumput menanti
Kering pagipagi
Nafkah sempit
Jual diri
Nunggak hidup
Terjebak ibukota

Elegi : Part 1

Elegi - part 1

by David Alexander Jacob on Tuesday, 9 October 2012 at 12:35 ·


Koreografi masa
Demam ketidakpuasan
Dihantam hukum alam
Pulangkan sejarah
Biar kenangan segar
Borong emosi
Sampai riuh batinnya
Tak sampai merdeka
Masih merahkah semangat
Masih putihkah nurani
Bazaar cinta berbalasan
Kerumunan hati tersengat
Yang berduri menangis
Terang jadi salah
Spanduk munafik
Sekolah siang
Menara listrik
Pemulung cassanova
Cermin pesanan
24 jam sehari
Garis besar
tak simpatik
Dokter gelonggongan
Masker pendosa
Peluh berbuih
Pendirian mesum
Perkemahan para pelesu dan peletih